Showing posts with label anna. Show all posts
Showing posts with label anna. Show all posts

Monday, December 10, 2012

Cooking course a la Jakarta Culinary Center


Belakangan ini, semakin banyak chef muda berbakat muncul di Televisi yang sebagian besar adalah kaum laki-laki. Hal ini mematahkan anggapan bahwa, siapa bilang memasak identik dengan wanita?
Jakarta Culinary Center (JCC) adalah sekolah kuliner pertama di Jakarta, yang bervisi dan misi; Menjadi Institut kuliner yang mengembangkan potensi dan passion masyarakat di bidang kuliner, dan mempersiapkan sumber daya dengan ketrampilan serta wawasan yang lebih luas tentang food & beverage. Sekolah ini menggunakan system pembelajaran dan kurikulum yang terbaik, dengan 70% praktik langsung dan 30% teori, oleh para pengajarnya yang merupakan chef-chef hotel bintang lima, pengusaha sukses di bidang kuliner, dan culinary expert.
JCC memiliki fasilitas-fasilitas penunjang seperti peralatan dapur, peralatan khusus pastry, dan ruang memasak yang nyaman berstandard internasional.
Paket program belajar memasak yang ditawarkan beragam, seperti Intensive Pastry and Bakery, Saturday Program, Mahir Memasak, Pengembangan Usaha Catering, serta Art Cooking Program. Ada pula salah satu paket program unggulan JCC, yaitu Professional Program. Program ini adalah pendidikan memasak selama 12 bulan bagi calon professional chef, yang setara dengan Diploma satu. Untuk program ini, JCC memfasilitasi siswa yang berminat training di hotel berbintang, dalam maupun luar kota.
“Sampai saat ini, Jakarta Culinary Center sudah memasuki angkatan ke 43, dan sebagian besar siswa nya adalah laki-laki. Menurut kami gender itu bukan sebuah halangan untuk memasak karena semua itu kembali kepada niat dan passion masing-masing. Setiap lulusan dari JCC akan mendapatkan ijazah dan sertifikat.” Ujar Mbak Linda, perwakilan dari Jakarta Culinary Center.
Jakarta Culinary Center memiliki 4 lokasi, yaitu  Rukan Permata Senayan Blok A/29, Sonatopas Tower lantai B1, Mall Ciputra lantai 5 – 22A, dan Jl. M.T. Haryono No. 102, Semarang,
Jawa Tengah.
So, who wants to be the next masterchef?

Live at Rossi Musik


Kemacetan setelah jam kerja adalah satu hal yang sudah tidak asing lagi bagi warga Jakarta. Hal ini kerap kali membuat kita membutuhkan sebuah penyegaran ditengah hectic-nya aktifitas yang tanpa henti. Untuk sebagian orang, musik bisa senantiasa menjadi hal yang esensial untuk memberi rasa senang pada diri individunya. Dan Rossi Music adalah sebuah tempat yang tepat untuk melepas kepenatan dengan caranya yang berbeda.
Rossi Music merupakan sebuah tempat yang terletak di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tempat ini memiliki sekolah musik, record studio, dan venue untuk acara di lantai paling atasnya sebagai korelasi untuk industri musik yang sehat. Rossi Music juga memiliki acara-acara rutin di setiap minggunya, yang salah satunya adalah Live at Rossi.
“Live at Rossi diadakan setiap 2 minggu sekali, setiap hari rabu. Kami memilih hari rabu, karena kami ingin menawarkan sebuah perfect gateaway dari kebisingan di pertengahan minggu. Musik, live perfomance, booze, memandangi kemacetan dari rooftop venue… Itulah simple pleasure yang kami tawarkan.” Ujar Abim, salah seorang perwakilan dari tim di balik kesuksesan acara ini.
Abim juga menyebutkan, bahwa Live at Rossi sendiri dibuat dengan sangat konseptual dan well programmed. Terlalu sensitf apabila acara ini disebut party, karena lebih cenderung sebagai sebuah gig atau celebration dengan tema-tema tertentu. Acara ini juga digunakan sebagai media atau jembatan untuk mengembangkan karakter dan identitas Jakarta melalui musik.
Dengan tampilan venue yang baru, Live at Rossi juga diharapkan bisa menjadi sebuah sarana bagi industri musik sehat untuk kaum minoritas melalui elemen-elemen yang mereka coba untuk bangun secara spesifik. Elemen-elemen yang dimaksud adalah jenis musik, konteks, venue, pertujukan, dan orang-orang di dalamnya sendiri. “Live at Rossi adalah melting point dari bertemunya para musisi, seniman, produser, record engineer, penikmat musik, dan yang lainnya.”
Live at Rossi telah menjadi agenda rutin Rossi Music selama 2 tahun terakhir. Pertama kali diadakan pada bulan Juni tahun 2009, dengan tujuan utama yaitu education and sharing for youth. Abim percaya, bahwa musik bisa merubah pola pikir dan sebagai kadar intelektual. “Music is about feeling, you know where you belong.” Jelasnya.
“Ada performance dari beberapa band dan 2 DJ dengan plat-plat rare yang mengisi setiap Live at Rossi. Genre-nya pun bebas dan beragam. Kami cukup mengatur program dan jadwal genre-genre musik yang akan kami suguhkan di setiap acaranya. Selain sebagai tempat untuk melepas penat, dan ajang berkumpul, kami juga ingin Live at Rossi bisa berbagi tentang sejarah-sejarah musik sebagai ilmu pengetahuan untuk para pengunjungnya. Karena semakin kita  tahu banyak, semakin banyak pula yang kita tidak tahu.” Tutur Abim panjang lebar.
Untuk beberapa bulan terakhir, acara Live at Rossi ini sedang mengalami masa “libur”nya. “Kami sedang mencoba untuk membuat program baru yang lebih bagus dari yang sudah ada. Untuk sementara ini space waktu untuk Live at Rossi diisi dengan acara musik Reggae yang tidak kalah seru. Kita bisa bergoyang sambil menikmati musik dan minuman yang tersedia dengan harga yang sangat terjangkau. Dan satu lagi, acara-acara ini gratis.”
Di balik acara ini, Abim dibantu oleh 7 orang temannya yang tergabung atas sebuah tim di luar dari komunitas atau kelompok tertentu.
“It’s not a party, it’s a research for a better living.” Ucap Abim seraya menutup perbincangan malam itu.

Monday, October 15, 2012

Dua Sisi Ajang Prestasi



Baru menjadi mahasiswa selama satu tahun tidak menghalangi Ryan Phedra untuk dinominasikan di ajang bergengsi UPH Award 2012. Laki-laki yang akrab dipanggil Rere ini memiliki segudang aktifitas dalam keorganisasian dan kepanitian. Keanggotaanya di Himpunan Mahasiswa Jurusan Perhotelan menjadi pintu gerbangnya mengikuti acara kepanitiaan, seperti acara Blood Donation, Miss UPH Scholar, Leadership In Training, dan masih banyak lagi. Pada awalnya ia hanya iseng-iseng saja mendaftar UPH Award. Alasannya sangat sederhana, “Takut ada penyesalan dan didorong juga oleh teman-teman,” katanya. Penyesalan yang dimaksud adalah ia tidak mau sampai tidak mencoba untuk ikut acara ini. “Pokoknya gue coba dulu daftar jangan sampai gue nanti kecewa di belakang,” kata laki-laki penggemar fotografi ini.
Siapapun boleh mendaftar sebagai calon nominator, termasuk juga panitia. Meskipun tahun lalu Rere tidak terlalu memberi perhatian kepada acara tersebut, ketertarikannya untuk mendaftar muncul saat ia menjadi bagian dari panitia UPH Award tahun ini. Ia mengisi formulir, memberi nilai transkrip, dan surat rekomendasi dari dosen jurusannya sebagai syarat untuk mendaftar menjadi calon nominator di UPH Awards.. 
Acara yang telah berlangsung selama enam kali ini membagikan lebih dari 10 kategori, antara lain adalah Student Entrepreneurship of the Year, Outstanding Sophomore, Outstanding Junior, Student Leader of the year, dan lain sebagainya. Rere dinominasikan untuk kategori Freshmen Student of the Year atau mahasiswa terbaik yang baru menjalani masa 1 tahun perkuliahan. Tanpa disangka keisengannya ini membuahkan hasil. Ia memenangkan nominasi tersebut! Saat ditanya pengaruh apa yang ia rasakan setelah memenangi prediket mahasiswa terbaik, ketua Pelita Harapan Photography Club ini hanya menjawab, “Lebih ingin berkonstribusi untuk acara-acara kampus.”
Lain halnya dengan Soraya Apriliyanti, mahasiswi jurusan sastra inggris UPH ini, mengaku belum pernah datang ke perhelatan UPH Awards. "Aku belum pernah datang ke UPH Awards, soalnya nggak tertarik." Ujarnya. "Kalau menurutku, UPH Awards mungkin tujuan acaranya bagus, untuk memotivasi mahasiswa supaya lebih berprestasi. Tapi realitanya, hanya segelintir yang sadar dan concern akan hal itu, yang lain atau mungkin sebagian besar ya fokus ke urusan masing-masing. Tanpa UPH Award, semua orang akan tetap bisa memotivasi diri untuk lebih berprestasi, balik lagi, tergantung masing-masing individu aja."
Mahasiswa semester akhir ini juga meneruskan, bahwa acara ini memberikan terkesan membuang-buang uang. Terutama dengan antusiasme penonton yang rendah dan pengunjung yang sedikit. “Mungkin ada baiknya konsepnya diganti, bukan hanya sekedar pemberian award terhadap mahasiswa UPH aja, tapi bagimana kita berkontribusi untuk masyarakat. Bukan selalu berkontribusi untuk diri sendiri.” Jelasnya.
UPH AWARDS memang mengundang pro dan kontra diantara warga UPH. Sebagian orang mungkin merasa UPH AWARDS adalah ajang untuk tampil menunjukkan prestasi. Sebagian berpendapat acara ini hanya untuk unjuk gigi saja, namun acara yang diadakan satu tahun sekali ini akan tetap mewarnai aktivitas kampus Universitas Pelita Harapan di tahun-tahun yang akan datang.
(Anna, Retna)